Ekonomi Sumbar Melambat ke 4,54 Persen, Bisakah Keluar dari Perlambatan Pertumbuhan?

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:01 WIB
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi atau lebih dikenal Masjid Raya Sumbar. (Foto: Indra Kurniawan/Sumbar Daily)
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi atau lebih dikenal Masjid Raya Sumbar. (Foto: Indra Kurniawan/Sumbar Daily)




Dengan kata lain, nominal investasi yang besar belum otomatis menghasilkan perubahan struktur ekonomi. Keberhasilan investasi perlu dinilai berdasarkan dampaknya terhadap produktivitas dan nilai tambah.





Mengubah Orientasi Investasi Sumbar





Karena itu, orientasi kebijakan investasi di Sumbar perlu bergerak dari sekadar menghitung nilai investasi menuju pengukuran dampak ekonomi yang lebih panjang.





Kerangka yang diperlukan adalah:





Investment Value → Productive Capacity → Productivity → Employment → Value Added → Export → Growth.





Rangkaian tersebut menggambarkan bahwa investasi seharusnya tidak berhenti pada nilai nominal yang masuk.





Investasi harus menghasilkan kapasitas produksi. Kapasitas produksi kemudian harus meningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas harus menciptakan pekerjaan, menghasilkan nilai tambah, memperluas ekspor, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.





“Investasi Rp10 triliun yang menghasilkan industri baru, ekspor dan rantai pemasok lokal dapat mempunyai nilai pembangunan yang jauh lebih tinggi daripada investasi dengan nominal sama yang mempunyai multiplier effect terbatas,” ujar Hefrizal.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X