Pilihan trase perlu diperbaiki apabila terdapat alternatif yang lebih efisien dan mampu mengurangi dampak. Pada saat yang sama, manfaat pembangunan harus dibagi secara lebih jelas melalui pengembangan nagari sebagai mitra koridor ekonomi.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat terdampak tidak hanya menjadi pihak yang melepaskan aset. Mereka dapat menjadi bagian dari ekonomi baru yang lahir setelah konektivitas tersedia.
Pada akhirnya, keluar dari Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Sumbar membutuhkan lebih dari sekadar mengejar angka pertumbuhan triwulanan. Sumbar membutuhkan perubahan cara memandang pembangunan.
Pertanian harus menjadi basis agroindustri. Investasi harus menjadi kapasitas produksi. Konektivitas harus menjadi perluasan pasar. Infrastruktur harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi. Masyarakat harus menjadi mitra pembangunan.
Dan pertumbuhan ekonomi harus diukur bukan hanya dari seberapa tinggi angka PDRB meningkat, tetapi dari seberapa besar kapasitas produksi, produktivitas, pekerjaan, nilai tambah dan ekspor yang berhasil dibangun.
“Sumbar bisa keluar dari perlambatan pertumbuhan, tetapi jalan keluarnya bukan sekadar meningkatkan permintaan jangka pendek. Jalan keluarnya adalah transformasi struktural, membangun sektor penggerak baru, mengarahkan investasi kepada kegiatan produktif, meningkatkan produktivitas, mempercepat konektivitas, serta membangun konsensus antara pemerintah dan masyarakat mengenai arah pembangunan,” tegas Hefrizal.
Dengan demikian, Triwulan II 2026 dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah perekonomian Sumbar.