NASA Pantau Karhutla Papua dari Satelit, Emisi Karbon Tembus 35 Juta Ton

Photo Author
Redaksi, Sumbardaily.com
- Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:13 WIB
NASA menampilkan asap kebakaran di Papua dari citra satelit NOAA-20 yang direkam pada 11 Oktober 2026. Emisi karbon di wilayah Papua Indonesia melampaui 35 juta ton. (Foto: NASA Earth Observatory)
NASA menampilkan asap kebakaran di Papua dari citra satelit NOAA-20 yang direkam pada 11 Oktober 2026. Emisi karbon di wilayah Papua Indonesia melampaui 35 juta ton. (Foto: NASA Earth Observatory)

Sumbardaily.com – Kebakaran dan lahan (karhutla) di Papua, Indonesia, sepanjang 2026 menghasilkan emisi karbon lebih dari 35 juta ton. Angka tersebut menjadikan emisi kebakaran di wilayah ini sebagai yang tertinggi ketiga dalam catatan yang dibandingkan, setelah 2015 dan 1997, ketika kebakaran parah juga terjadi bersamaan dengan fenomena El Niño.

Data tersebut dipaparkan NASA Earth Observatory pada Kamis (22/10/2026). NASA turut memperlihatkan citra satelit NOAA-20 yang merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau New Guinea pada 11 Oktober 2026.

Lonjakan emisi karbon itu menjadi gambaran besarnya dampak kebakaran di kawasan yang mencakup Papua Indonesia dan Papua Nugini. Selain melepaskan karbon ke atmosfer, kebakaran yang berlangsung selama berminggu-minggu tersebut juga menimbulkan gangguan terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.

Asap Karhutla Ganggu Penerbangan dan Aktivitas Sekolah

Data Global Fire Emissions Database (GFED) yang dikutip NASA menunjukkan tingginya emisi karbon akibat kebakaran di sisi barat Pulau New Guinea, termasuk wilayah Papua Indonesia.

Sementara itu, emisi karbon akibat kebakaran di Papua Nugini, yang berada di bagian timur pulau tersebut, mendekati 32 juta ton hingga 19 Oktober 2026.

NASA melaporkan asap kebakaran telah menyelimuti sebagian kawasan New Guinea selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut memperburuk kualitas udara dan memengaruhi kegiatan sehari-hari masyarakat.

Sejumlah gangguan yang dilaporkan meliputi penerbangan yang mengalami penundaan hingga pembatalan. Aktivitas pendidikan juga terdampak karena sekolah di sejumlah wilayah ditutup. Selain itu, terdapat imbauan agar anak-anak dan lansia menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.

Robert Field, peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, menjelaskan bahwa pergerakan asap tidak selalu membuat polutan terangkat jauh dari permukaan bumi.

Sebagian asap memang dapat terbawa naik ke atmosfer melalui aktivitas badai. Namun, banyak pula asap yang bertahan di dekat permukaan sehingga terus memengaruhi kualitas udara yang dihirup masyarakat.

“It’s a horrible situation (Ini situasi yang mengerikan),” kata Field saat menggambarkan kondisi tersebut.

Kekeringan akibat El Niño Tingkatkan Risiko Kebakaran

NASA menjelaskan kondisi kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño turut meningkatkan kerentanan ekosistem di Pulau New Guinea terhadap kebakaran.

Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar. Dalam kondisi tersebut, api yang awalnya digunakan untuk mengelola lahan dapat menyebar di luar kendali dan memicu kebakaran yang lebih luas.

Aktivitas manusia disebut para peneliti sebagai pemicu utama kebakaran di kawasan tersebut. Sejumlah kegiatan yang berkontribusi terhadap risiko kebakaran meliputi pembukaan lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, serta perburuan.

Peneliti Yang Chen dari University of California, Irvine, menilai aktivitas kebakaran pada 2026 mengalami peningkatan tajam di Papua Indonesia dan Kalimantan. Peningkatan tersebut terlihat lebih menonjol dibandingkan kondisi di Sumatera dan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Admin Redaksi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X