Konektivitas memperbesar pasar bagi nilai tambah tersebut. Agroindustrialisasi membutuhkan pasar yang luas. Jalan tol membantu membuka pasar tersebut. Industri pengolahan membutuhkan bahan baku yang konsisten.
Basis pertanian Sumbar dapat menyediakan bahan baku tersebut. Industri membutuhkan logistik yang efisien. Konektivitas dapat menurunkan waktu dan ketidakpastian perjalanan serta memperluas pasar efektif.
Karena itu, dua agenda tersebut tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Pembangunan jalan tol harus diikuti dengan kebijakan pengembangan kawasan ekonomi. Sebaliknya, kebijakan agroindustri harus mempertimbangkan akses pasar dan logistik.
Jika kedua agenda tersebut berjalan bersama, Sumbar memiliki peluang membangun mesin pertumbuhan yang lebih kuat.
Jalan Keluar Bukan Sekadar Mengejar Angka Pertumbuhan
Pada akhirnya, persoalan Perekonomian Sumbar setelah Triwulan II 2026 bukan hanya bagaimana menaikkan angka pertumbuhan dalam jangka pendek. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana keluar dari kecenderungan pertumbuhan moderat yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Angka 4,54 persen pada Triwulan II 2026 menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan 3,94 persen pada Triwulan II 2025. Namun, penurunan dari 5,02 persen pada Triwulan I menunjukkan bahwa akselerasi belum cukup kuat.
Secara kumulatif, Semester I 2026 tumbuh sekitar 4,77 persen. Situasi tersebut menunjukkan bahwa Sumbar masih membutuhkan mesin pertumbuhan baru.