Kondisi itulah yang menjadi tantangan utama perekonomian Sumbar setelah memasuki paruh kedua 2026.
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Melambat, tetapi Belum Menjadi Krisis
Angka pertumbuhan 4,54 persen pada Triwulan II 2026 tidak menunjukkan bahwa perekonomian Sumbar sedang mengalami krisis. Pertumbuhan tersebut justru menunjukkan adanya perbaikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan Triwulan II 2025 yang hanya 3,94 persen.
Akan tetapi, perbandingan dengan Triwulan I 2026 memberikan gambaran berbeda. Ekonomi Sumbar yang sempat tumbuh 5,02 persen kembali turun ke 4,54 persen hanya dalam satu triwulan.
Dengan demikian, terdapat dua fakta yang harus dibaca secara bersamaan. Pertama, ekonomi Sumbar memang mengalami pemulihan dibandingkan tahun sebelumnya. Kedua, pemulihan tersebut belum cukup kuat untuk memastikan bahwa Sumbar telah memasuki fase pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan.
Secara kumulatif, pertumbuhan Semester I 2026 mencapai sekitar 4,77 persen. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa perekonomian Sumbar masih bergerak positif, tetapi belum menunjukkan perubahan fundamental terhadap kecenderungan pertumbuhan moderat yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
“Penurunan pertumbuhan dari 5,02 persen pada Triwulan I menjadi 4,54 persen pada Triwulan II 2026 sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai fluktuasi jangka pendek,” ujar Hefrizal.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu ditempatkan dalam kecenderungan yang lebih panjang mengenai kemampuan Sumbar menghasilkan pertumbuhan.
Konteks tersebut menjadi semakin penting ketika pertumbuhan Sumbar dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan provinsi tetangga. Sumbar pada Triwulan II 2026 berada di bawah pertumbuhan nasional serta lebih rendah dibandingkan Sumatera Utara dan Riau.