Ekonomi Sumbar Melambat ke 4,54 Persen, Bisakah Keluar dari Perlambatan Pertumbuhan?

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:01 WIB
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi atau lebih dikenal Masjid Raya Sumbar. (Foto: Indra Kurniawan/Sumbar Daily)
Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi atau lebih dikenal Masjid Raya Sumbar. (Foto: Indra Kurniawan/Sumbar Daily)


Sumbardaily.com – Perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) memasuki paruh kedua 2026 dengan persoalan yang tidak sekadar berkaitan dengan naik-turunnya angka pertumbuhan ekonomi dari satu triwulan ke triwulan berikutnya. Setelah sempat mencatat pertumbuhan 5,02 persen secara year-on-year (yoy) pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumbar kembali melambat menjadi 4,54 persen pada Triwulan II 2026.





Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada Semester I 2026 berada di sekitar 4,77 persen. Angka 4,54 persen pada Triwulan II 2026 sebenarnya masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Triwulan II 2025, ekonomi Sumbar hanya tumbuh 3,94 persen.





Namun, perlambatan dari 5,02 persen pada Triwulan I menjadi 4,54 persen pada Triwulan II 2026 menunjukkan bahwa momentum akselerasi ekonomi Sumbar belum cukup kuat. Kondisi tersebut menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi Sumbar pada Triwulan II 2026 juga berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dan lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi tetangga yang menjadi pembanding, terutama Sumatera Utara dan Riau.





Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas (Unand), Dr. Hefrizal Handra, menilai perkembangan tersebut perlu dibaca dalam perspektif yang lebih panjang. Menurut dia, persoalan ekonomi Sumbar bukan hanya soal fluktuasi pertumbuhan dalam satu atau dua triwulan, melainkan berkaitan dengan kemampuan daerah membangun sumber pertumbuhan baru yang dapat bekerja secara konsisten.





“Persoalan yang dihadapi tampaknya semakin berkaitan dengan sisi penawaran atau supply side: struktur produksi, investasi, produktivitas, konektivitas dan kemampuan membangun kegiatan ekonomi baru,” kata Hefrizal Handra, dilansir dari Kepakaran Unand, Sabtu (15/8/2026).





Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumbar pada Triwulan I 2026 mencapai 5,02 persen. Pada periode tersebut, lapangan usaha akomodasi dan makan-minum menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi. Perkembangan itu memperlihatkan bahwa Sumbar memiliki sektor-sektor yang mampu tumbuh tinggi.





Persoalannya, sektor yang tumbuh tinggi belum tentu otomatis menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Sebuah sektor baru dapat disebut sebagai growth engine apabila memiliki atau berkembang menuju skala ekonomi yang cukup besar, mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi secara persisten, mempunyai produktivitas tinggi, serta menciptakan keterkaitan luas dengan kegiatan ekonomi lainnya.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X