Sebagai gambaran, pendapatan Rp5 juta di daerah dengan biaya hidup tertentu tidak mempunyai makna ekonomi yang sama dengan pendapatan Rp5 juta di kota besar yang memiliki biaya perumahan, transportasi, dan pendidikan lebih tinggi.
Hal serupa berlaku pada pendapatan Rp3 juta. Pendapatan tersebut bagi rumah tangga tanpa tanggungan kesehatan tidak sama dengan pendapatan Rp3 juta bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan kebutuhan pengobatan rutin.
Karena itu, kesejahteraan tidak cukup dilihat dari pendapatan. Harga perumahan, pangan, transportasi, pendidikan, energi, dan kesehatan juga perlu diperhitungkan.
"Kemiskinan modern bukan hanya persoalan 'tidak punya uang', melainkan juga persoalan uang yang tidak lagi cukup untuk membeli keamanan hidup," kata Hardisman.
Kesenjangan Berlapis hingga Akses Kesehatan
Kesenjangan juga tidak sebatas perbedaan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin. Dalam kehidupan nyata, terdapat kesenjangan pendapatan, pendidikan, kesempatan kerja, geografis, digital, hingga kesehatan.
Dua orang dapat memiliki pendapatan relatif sama, tetapi mempunyai peluang hidup berbeda karena tempat tinggal, kualitas lingkungan, pendidikan, konektivitas, dan akses terhadap layanan publik.
Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau berpenghuni, jarak geografis di Indonesia dapat berubah menjadi jarak sosial. Penduduk di pusat kota mungkin dapat mengakses rumah sakit spesialis dalam waktu kurang dari satu jam.
Sementara penduduk di daerah terpencil mungkin harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh layanan yang sama.