"Realitas kehidupan tidak hanya berada di dalam spreadsheet angka-angka. Pada akhirnya, kemiskinan adalah persoalan statistik sekaligus persoalan moral," kata Hardisman.
Statistik diperlukan agar negara tidak membuat kebijakan berdasarkan perasaan. Namun, statistik juga harus digunakan untuk melihat manusia, bukan untuk menggantikan manusia.
Di balik angka kemiskinan internasional terdapat jutaan orang yang mungkin belum miskin menurut definisi nasional, tetapi belum memiliki keamanan ekonomi yang memadai.
Di balik kesenjangan terdapat anak-anak yang lahir dengan kesempatan yang tidak sama. Di balik biaya kesehatan terdapat keluarga yang mungkin harus memilih antara berobat dan mempertahankan konsumsi sehari-hari.
Di balik persoalan akses kesehatan terdapat pertanyaan fundamental mengenai apakah tempat seseorang dilahirkan, tingkat pendapatan, atau kondisi ekonomi boleh menentukan seberapa besar peluangnya untuk hidup sehat.
Menurut Hardisman, jawaban terhadap pertanyaan tersebut turut menentukan wajah pembangunan Indonesia.
Indonesia telah mencapai kemajuan. Angka kemiskinan nasional terus bergerak turun, JKN telah memperluas perlindungan kesehatan hingga mencakup sebagian besar penduduk, dan sistem kesehatan terus diperkuat.