Ada keluarga yang harus memilih antara membayar kontrakan atau membeli obat. Ada orang tua yang menunda pemeriksaan karena biaya transportasi. Ada pekerja yang tetap bekerja meskipun sedang sakit karena tidak mempunyai pendapatan pengganti. Ada pula anak yang harus menerima makanan dengan kualitas lebih rendah agar uang rumah tangga cukup hingga akhir bulan.
Karena itu, perdebatan mengenai kemiskinan Indonesia menurut Prof. Hardisman tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan mengenai berapa persen penduduk miskin atau data mana yang paling benar.
"Pertanyaan yang lebih penting adalah 'Miskin dengan standar kehidupan seperti apa, dan apa konsekuensinya bagi kehidupan nyata?'" katanya.
Menurutnya, kemiskinan pada dasarnya bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak mempunyai sejumlah rupiah tertentu. Kemiskinan merupakan keterbatasan kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan yang layak.
Seseorang bisa saja berada sedikit di atas garis kemiskinan nasional, tetapi belum mempunyai ruang ekonomi yang memadai. Ia mungkin mampu membeli makanan hari ini, tetapi tidak memiliki tabungan untuk menghadapi sakit.
Kondisi serupa dapat terjadi ketika seseorang mampu membayar listrik pada bulan berjalan, tetapi kesulitan ketika anak membutuhkan biaya sekolah secara mendadak. Seseorang juga dapat memiliki pekerjaan, tetapi pekerjaannya tidak memberikan kepastian pendapatan.
Kelompok seperti ini tidak disebut miskin secara statistik. Namun, satu kejadian tidak terduga dapat membuat kondisi ekonomi keluarganya jatuh ke dalam kemiskinan.
"Inilah yang membedakan kemiskinan aktual dengan kerentanan ekonomi," jelas Hardisman.