Jika fenomena tersebut terjadi, asap dapat terangkat ke lapisan atmosfer yang sangat tinggi, bahkan mencapai stratosfer.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di Indonesia karena sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Gambut merupakan akumulasi bahan organik yang terbentuk dalam waktu sangat panjang.
Ketika mengering, bahan organik tersebut dapat terbakar secara perlahan dan membara di bawah permukaan.
“Karakter pembakaran semacam ini menghasilkan asap dengan kandungan karbon organik yang tinggi,” jelas Hardisman.
Asap gambut dapat membawa PM2.5 yang didominasi komponen karbon dan bergerak jauh mengikuti angin, bahkan melampaui batas administratif wilayah maupun negara.
Penelitian beberapa tahun sebelumnya menunjukkan asap kebakaran hutan di Pulau Sumatra dan Kalimantan dapat memengaruhi udara di Malaysia dan Singapura, disertai peningkatan PM2.5.
Kabut Asap Bukan Penyebab Langsung ISPA
Kabut asap sering dikaitkan dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Namun, Prof. Hardisman mengingatkan pentingnya membedakan infeksi dengan iritasi saluran pernapasan.