Saat seseorang berada di tengah kabut asap, sejumlah tanda paparan dapat dirasakan. Mata dapat terasa pedih, tenggorokan gatal, dan hidung mencium bau seperti kayu terbakar.
Namun, sensasi tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran tingkat bahaya. Sebab, sebagian risiko tidak dapat dinilai hanya berdasarkan apa yang dirasakan secara langsung.
PM2.5 Asap Gambut Mengandung Beragam Zat
Penelitian terhadap kebakaran gambut menunjukkan PM2.5 dari asap gambut didominasi bahan karbon, terutama karbon organik. Selain itu terdapat nitrat (NO₃⁻), sulfat (SO₄²⁻), amonium (NH₄⁺), berbagai senyawa organik, serta sejumlah logam seperti aluminium (Al), besi (Fe), dan titanium (Ti).
“PM2.5 bukanlah satu zat tunggal, melainkan campuran fisik dan kimia yang komposisinya bergantung pada apa yang terbakar dan bagaimana pembakaran berlangsung,” ujar Hardisman.
Di lokasi yang dekat dengan sumber kebakaran, konsentrasi PM2.5 dapat mencapai sekitar 1.600 µg/m³.
Ketika kebakaran memasuki kawasan permukiman, persoalan menjadi semakin kompleks. Material sintetis dan bangunan yang ikut terbakar dapat menambahkan hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), logam tertentu, serta berbagai senyawa toksik lainnya.
Karbonmonoksida Bisa Ganggu Pengangkutan Oksigen
Selain partikulat, asap kebakaran juga mengandung berbagai gas. Salah satunya adalah karbonmonoksida (CO).
Gas tersebut tidak berwarna dan tidak berbau. Bahayanya muncul karena CO dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darah dan membentuk karboksihemoglobin (COHb) lebih kuat dibandingkan oksigen yang berikatan dengan hemoglobin (HbO2).