Sumbardaily.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan tidak hanya membuat udara menjadi keruh dan mengganggu pernapasan. Di balik asap yang terlihat, terdapat campuran partikel mikroskopis, gas, senyawa organik, dan berbagai zat toksik yang dapat masuk ke dalam tubuh.
Guru Besar Bidang Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (Unand), Prof. Hardisman, menjelaskan bahwa persoalan kabut asap perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar ketebalan asap atau kuatnya bau terbakar.
“Kabut asap bukan sekadar udara yang berbau terbakar. Kabut asap adalah campuran kompleks partikel mikroskopis, gas, senyawa organik, dan berbagai zat toksik lain yang dapat masuk ke tubuh melalui pernapasan,” kata Hardisman, dikutip dilansir dari Kepakaran Unand, Minggu (13/9/2026).
Menurutnya, tingkat bahaya kesehatan kabut asap sangat ditentukan oleh kandungan polutan di dalamnya, ukuran partikel, lamanya seseorang mengalami paparan, serta sejauh mana polutan tersebut terbawa atmosfer.
“Ukuran bahaya kabut asap tidak hanya ditentukan oleh seberapa tebal asap terlihat oleh mata. Bahaya dan dampaknya sangat ditentukan oleh apa yang terkandung di dalamnya, seberapa kecil partikelnya, berapa lama seseorang menghirupnya, dan ke mana polutan tersebut terbawa atmosfer,” ujarnya.
Bukan Sekadar Soal Asap yang Terlihat
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, Hardisman menilai pertanyaan mengenai kabut asap tidak seharusnya hanya berhenti pada apakah asap tersebut berbahaya.
“Pertanyaan tidak lagi ‘Apakah asap ini berbahaya?’, melainkan ‘Seberapa besar paparan yang diterima manusia, zat apa yang terhirup, berapa lama paparannya berlangsung, dan kelompok siapa yang paling rentan?’” jelasnya.