Beberapa senyawa yang dapat muncul antara lain formaldehida (HCHO), akrolein (C₃H₄O), dan benzena (C₆H₆).
Senyawa tersebut dapat menyebabkan iritasi atau memiliki implikasi toksik yang lebih serius. Benzena, misalnya, dikenal sebagai karsinogen atau zat yang memiliki risiko kanker.
“Meskipun demikian, risiko kanker tergantung dengan lama paparan dan kerentanan individu,” kata Hardisman.
Asap Kebakaran Bisa Terbawa hingga Ribuan Kilometer
Kabut asap juga tidak bisa dilihat hanya sebagai persoalan lokal di sekitar titik kebakaran. Pergerakan partikulat sangat dipengaruhi kondisi atmosfer.
Partikel besar seperti serpihan arang dan abu kasar memiliki kecepatan pengendapan lebih tinggi sehingga cenderung berada di sekitar sumber kebakaran. Sebaliknya, PM2.5 yang berukuran kecil lebih mudah terbawa angin.
“Partikel kecil dapat tetap tersuspensi dalam atmosfer dan mengikuti pergerakan udara,” ujarnya.
Pada kebakaran biasa, sebagian besar asap tetap berada di troposfer dan dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer.
Pada kebakaran ekstrem, mekanismenya dapat menjadi lebih kompleks. Api yang sangat besar dapat menghasilkan kolom udara panas yang naik dengan kuat. Dalam kondisi tertentu, terbentuk awan badai yang disebut pyrocumulonimbus (pyroCb).