Pada tanah mineral, pemadaman umumnya diarahkan pada vegetasi dan serasah yang terbakar, pembatasan penjalaran api, serta pengurangan bahan bakar di permukaan. Meski demikian, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal pada kayu, akar, atau lapisan humus yang tebal.
Bara yang tersisa dapat menjadi sumber panas meskipun api utama telah padam. Karena itu, kondisi material di sekitar lokasi kebakaran tetap perlu diperhatikan dalam proses penanganan.
Sementara itu, pemadaman di lahan gambut menghadapi tantangan karena api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan. Air yang hanya membasahi bagian atas lahan belum tentu mencapai titik pembaraan yang menjadi sumber panas.
Penelitian Mulyasih dan rekan-rekannya pada 2022 membandingkan metode pemadaman gambut melalui penyemprotan air dari permukaan dengan teknik injeksi air langsung menuju titik panas di bawah permukaan.
Eksperimen laboratorium menggunakan gambut dari Jambi menunjukkan bahwa kebutuhan air melalui metode injeksi mencapai sekitar 3,81 liter untuk setiap kilogram gambut. Waktu pemadaman dengan teknik tersebut tercatat sekitar separuh dibandingkan metode penyemprotan permukaan.
Meski demikian, angka tersebut merupakan hasil percobaan laboratorium dan tidak dapat langsung dijadikan dosis baku untuk pemadaman kebakaran gambut di lapangan.
Kebutuhan air dalam situasi nyata dapat berbeda, bergantung pada kedalaman bara, kadar air gambut, karakteristik material, dan luas kawasan yang terbakar. Faktor-faktor tersebut menentukan seberapa banyak air yang diperlukan untuk menjangkau sumber panas dan menghentikan pembaraan.