Sebaliknya, kebakaran dapat menghancurkan sebagian lapisan yang terbentuk dalam rentang waktu panjang tersebut. Kerusakan dapat berlangsung selama kebakaran yang terjadi dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan.
Perbedaan rentang waktu itu menjadi salah satu karakteristik penting dalam memahami kerentanan ekosistem gambut. Lapisan tanah yang hilang akibat pembakaran tidak dapat dibentuk kembali hanya dalam hitungan tahun. Proses pembentukan gambut kembali bahkan dapat memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun.
Kerusakan yang terjadi juga tidak terbatas pada vegetasi di atas tanah. Ketika gambut ikut terbakar, sebagian material penyusun tubuh tanah dapat hilang bersama cadangan karbon yang tersimpan di dalamnya.
Karena itu, pemulihan vegetasi di permukaan tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi lahan telah kembali seperti semula. Tumbuhan dapat kembali tumbuh, tetapi lapisan gambut yang terbakar membutuhkan proses pembentukan yang jauh lebih lama.
Kondisi tersebut membuat penilaian pascakebakaran perlu memperhatikan beberapa aspek sekaligus. Perubahan tutupan vegetasi, ketebalan lapisan gambut, kondisi air tanah, serta sifat kimia dan biologis tanah memberikan informasi yang berbeda mengenai dampak kebakaran.
Penelitian tentang perubahan sifat kimia gambut dua tahun setelah kebakaran di Kubu Raya, misalnya, menunjukkan bahwa sebagian indikator dapat mendekati kondisi lahan yang tidak terbakar. Namun, hasil tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa material gambut yang hilang tidak dapat terbentuk kembali dalam waktu singkat.
Dengan demikian, terdapat perbedaan antara membaiknya sejumlah sifat tanah dan pulihnya seluruh fungsi ekosistem. Perubahan yang terlihat melalui pengukuran kimia perlu dibaca bersama kondisi fisik dan hidrologis, terutama pada lahan yang mengalami kehilangan ketebalan gambut.
Kerusakan Tanah Pascakarhutla Berpengaruh terhadap Pertanian
Dampak karhutla terhadap tanah juga berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan pertanian. Perubahan kondisi tanah dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, kemampuan lahan menyediakan air, serta risiko kerusakan lanjutan ketika hujan turun.