Perbedaan susunan material tersebut juga berpengaruh terhadap penjalaran panas. Pada tanah mineral, kebakaran umumnya menghanguskan vegetasi dan bahan organik di permukaan. Sebaliknya, pada gambut, material penyusun tanah itu sendiri dapat menjadi bahan bakar sehingga kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian yang terlihat dari atas.
Suhu Kebakaran Bisa Mencapai Ratusan Derajat Celsius
Besarnya kerusakan tanah akibat karhutla berkaitan dengan suhu yang diterima, lama paparan panas, kadar air, serta kedalaman rambatan panas. Dengan kata lain, suhu tertinggi yang tercatat di permukaan tidak dapat digunakan sendirian untuk menggambarkan tingkat kerusakan seluruh lapisan tanah.
Suhu kebakaran hutan dan lahan dapat mencapai ratusan derajat Celsius. Kajian internasional terhadap berbagai kejadian kebakaran mencatat suhu maksimum di permukaan tanah mineral berada pada rentang 240–964 derajat Celsius, dengan rata-rata sekitar 544 derajat Celsius.
Namun, panas tersebut berkurang ketika bergerak ke lapisan yang lebih dalam. Pada kedalaman satu sentimeter, rata-rata suhu maksimum yang tercatat turun menjadi sekitar 129 derajat Celsius.
Kondisi berbeda ditemukan dalam penelitian eksperimental pada lahan gambut di Sumatera Selatan. Penelitian tersebut mencatat suhu pembaraan di bawah permukaan mencapai 400–600 derajat Celsius.
Perbedaan hasil pengukuran itu memperlihatkan pentingnya memahami lokasi dan kedalaman terjadinya pembakaran. Suhu permukaan yang tinggi tidak selalu berarti panas dengan intensitas serupa mencapai bagian tanah yang lebih dalam. Sebaliknya, pembaraan di dalam gambut dapat mempertahankan sumber panas di bawah permukaan, bahkan ketika api tidak lagi terlihat.
“Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebakaran tanah mineral umumnya menghasilkan pemanasan yang relatif dangkal, sedangkan pada gambut, panas dapat bertahan lebih lama dan merambat melalui lapisan tanah yang kaya bahan organik. Oleh karena itu, tingkat kerusakan tanah tidak hanya ditentukan oleh tingginya suhu, tetapi juga oleh durasi pembakaran, kadar air, dan kedalaman penetrasi panas,” ujar Dian, yang juga merupakan pengurus dan anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI).