Hasil penelitian menunjukkan laju penurunan permukaan gambut setelah kebakaran meningkat sekitar 6,4 kali dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan permukaan tersebut dikenal sebagai subsidence. Fenomena ini menggambarkan perubahan elevasi lahan yang dapat berkaitan dengan hilangnya material gambut, pemadatan, dan proses oksidasi.
Namun, perubahan permukaan tidak selalu disebabkan oleh pembakaran secara langsung. Drainase dan perubahan kondisi air tanah juga dapat memengaruhi besarnya penurunan elevasi.
Karena itu, penurunan permukaan gambut perlu dianalisis dengan mempertimbangkan berbagai proses yang terjadi pada lahan. Data perubahan elevasi memberikan informasi penting, tetapi penyebab dan besarnya kontribusi setiap proses tidak dapat ditentukan hanya dari perubahan permukaan.
Penggunaan citra radar memiliki kelebihan karena pengamatan tetap dapat dilakukan dalam kondisi berawan. Karakteristik tersebut memungkinkan pemantauan berkala terhadap perubahan permukaan lahan, termasuk pada kawasan gambut yang luas.
Teknologi penginderaan jauh dapat membantu menyediakan gambaran perubahan lahan dari waktu ke waktu. Data tersebut juga memberikan pendekatan untuk mengamati kondisi wilayah yang sulit dipantau hanya dengan pemeriksaan langsung di lapangan.
Dalam konteks kerusakan akibat karhutla, pengamatan perubahan permukaan menjadi salah satu cara untuk memahami dampak yang tidak selalu terlihat setelah api padam. Informasi mengenai penurunan elevasi dapat melengkapi penelitian sifat kimia, fisik, dan biologis tanah dalam menilai perubahan yang terjadi setelah kebakaran.
Pemadaman Gambut Tidak Cukup Hanya Membasahi Permukaan
Perbedaan karakteristik tanah mineral dan gambut juga menentukan pendekatan yang diperlukan untuk memadamkan api. Metode yang efektif untuk menangani kebakaran vegetasi di permukaan belum tentu cukup untuk menghentikan pembaraan yang berlangsung di bawah tanah.