berita

Karhutla Bisa Hancurkan Lapisan Gambut 15 Cm, Ini Dampaknya bagi Tanah

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:15 WIB
Ilustrasi Kebakaran Hutan (Foto: Pixabay)



“Perbedaan ini penting dipahami karena menentukan tingkat kerusakan, teknik pemadaman, dan proses pemulihan lahan. Sejumlah penelitian di Sumatera dan Kalimantan memberikan gambaran ilmiah mengenai perubahan yang terjadi pada kedua jenis tanah tersebut,” ujar Dian dilansir dari Kepakaran Unand, Selasa (20/10/1026).





Tanah Mineral dan Gambut Menghadapi Risiko Berbeda





Tanah mineral dan gambut memiliki komposisi serta proses pembentukan yang berbeda. Perbedaan mendasar ini membuat keduanya memberikan respons yang tidak sama ketika terpapar panas akibat kebakaran.





Tanah mineral terbentuk melalui proses pelapukan batuan dan perkembangan bahan tanah. Komponen utamanya terdiri atas partikel pasir, debu, dan liat. Ketiga fraksi mineral tersebut tidak menjadi bahan bakar pada suhu yang lazim ditemukan dalam kebakaran vegetasi.





Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti tanah mineral sepenuhnya terbebas dari kerusakan. Paparan panas dengan suhu sangat tinggi masih dapat mengubah sifat dan susunan mineral tertentu. Panas juga dapat memengaruhi bahan organik, organisme, serta struktur tanah yang berada di sekitar permukaan.





Sementara itu, gambut terbentuk melalui penumpukan sisa tumbuhan dalam lingkungan yang jenuh air. Kondisi tersebut memperlambat proses dekomposisi sehingga material organik terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun. Di sejumlah lokasi, proses ini menghasilkan lapisan gambut dengan ketebalan lebih dari 10 meter.





Karena tersusun dari bahan organik, gambut memiliki karakteristik berbeda dari tanah mineral. Ketika kadar airnya terjaga, gambut relatif sulit terbakar. Namun, situasinya berubah ketika kemarau panjang menyebabkan lahan mengering atau ketika drainase membuat air keluar dari kawasan gambut secara berlebihan.





Dian menerangkan bahwa penurunan muka air tanah dapat membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran.





“Dalam keadaan basah, gambut relatif sulit terbakar. Namun, ketika kemarau panjang atau dibuatkan kanal saluran agar air berkurang (didrainase), akan menyebabkan muka air tanah turun, lapisan gambut mengering dan menjadi rentan terhadap kebakaran,” terangnya.

Halaman:

Tags

Terkini