"Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari panjang jalan yang dibangun, tetapi dari kemampuan jaringan jalan dan jembatan untuk mempertahankan tingkat pelayanan, menjamin keselamatan, mendukung kelancaran logistik, serta tetap berfungsi dan cepat pulih ketika menghadapi bencana maupun dampak perubahan iklim," demikian disampaikan Roy dalam materi sambutannya.
Pernyataan tersebut menyoroti sejumlah aspek yang menjadi ukuran penting dalam pengelolaan infrastruktur, yakni keberlanjutan pelayanan, keselamatan pengguna, kelancaran distribusi logistik, dan kemampuan pemulihan ketika terjadi gangguan.
Pembahasan mengenai ketahanan infrastruktur juga berkaitan dengan kebutuhan pemeliharaan dan pemanfaatan teknologi. Data kondisi aset, pemantauan kerusakan, serta penentuan prioritas penanganan menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan yang dipaparkan dalam forum tersebut.
Bagi Hutama Karya, hasil diskusi dan penelitian yang disampaikan dalam KRTJ ke-16 menjadi masukan untuk menyempurnakan praktik pembangunan dan pengelolaan infrastruktur.
Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan menyampaikan bahwa perusahaan terus mendorong kerja sama lintas pemangku kepentingan agar pengembangan jaringan jalan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Menurut Iwan, penguatan konektivitas tidak hanya berkaitan dengan tersedianya jaringan transportasi, tetapi juga dengan peluang yang dapat terbuka bagi masyarakat di berbagai daerah.
"Sejalan dengan Asta Cita, kami ingin konektivitas yang dibangun membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat, mulai dari akses ke pusat kegiatan ekonomi hingga peluang usaha di daerah. Inilah manfaat jangka panjang yang terus kami upayakan melalui pembangunan infrastruktur," tutup Iwan. (*)