Sebagai contoh, mahasiswa yang tidak memiliki prestasi atau karya bisa menjadi pihak yang paling kritis terhadap prestasi mahasiswa lain. Dalam kondisi tersebut, seseorang berusaha merasa lebih unggul bukan melalui pencapaian diri, melainkan dengan menemukan kelemahan orang lain.
Pola ini dapat muncul dalam perilaku mengoreksi, meremehkan, membandingkan, menyindir, hingga terus-menerus membongkar kekurangan orang lain.
Mengaku Jujur Tidak Selalu Berarti Objektif
Bentuk kritik toksik lainnya adalah brutal honesty, yakni kejujuran yang digunakan sebagai pembenaran untuk mengatakan apa pun tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
Hardisman menjelaskan, kebenaran membutuhkan akurasi dan integritas. Namun, keduanya juga harus disertai kebijaksanaan ketika diterapkan dalam hubungan antarmanusia.
Jika seseorang mengaku hanya menyampaikan kejujuran, tetapi selalu memilih kata-kata yang menyakitkan, menyerang pribadi, tidak pernah memberikan solusi, dan menikmati ketidaknyamanan orang lain, perilakunya perlu dipertanyakan.
"Kejujuran tidak pernah identik dengan kekasaran. Kebenaran dan kejujuran disampaikan tanpa penghinaan. Ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan, dan keberanian berbicara tidak otomatis bisa menjadikan perkataannya benar," ujar Hardisman.
Namun, kritik toksik tidak selalu berasal dari perasaan superioritas. Tekanan emosional yang belum terselesaikan juga dapat menjadi pemicunya.
Seseorang yang mengalami konflik keluarga, merasa tidak dihargai, atau hidup dalam kecemasan berkepanjangan dapat membawa beban emosional tersebut ke lingkungan lain. Ketika tidak mampu menghadapi sumber masalah yang sebenarnya karena adanya ketimpangan kekuasaan, emosi dapat dialihkan kepada sasaran yang dianggap lebih aman.