Sering Mengkritik Orang Lain? Kenali Batas Kritik Sehat dan Toksik

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:04 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)



Hal yang perlu dikoreksi adalah keputusan, argumen, atau tindakan yang bermasalah, bukan karakter, harga diri, maupun masa lalu seseorang.





Kalimat "Keputusan ini memiliki kelemahan karena..." masih termasuk kritik konstruktif. Namun, pernyataan "Memang kamu dari dulu tidak pernah becus" telah bergeser menjadi serangan terhadap pribadi.





Dalam perspektif Islam, pergeseran tersebut bukan sekadar persoalan gaya komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan akhlak.





Kritik Harus Membuka Jalan Perbaikan





Hardisman mengingatkan bahwa nasihat objektif tidak harus selalu menyenangkan, tetapi harus mengarah pada perbaikan. Kritik boleh disampaikan secara tegas dan menunjukkan kesalahan dengan jelas, tetapi tidak semestinya berubah menjadi penghinaan.





Pemberi nasihat juga perlu menyadari bahwa dirinya bukan hakim atas keseluruhan pribadi seseorang atau sebuah institusi. Bisa jadi, masih ada bagian dari persoalan yang belum diketahui secara utuh.





Karena itu, kritik yang sehat perlu berlandaskan kebenaran, mengutamakan kemaslahatan, dan memberikan ruang bagi perubahan.





Tujuan kritik bukan menjatuhkan orang lain atau mempertahankan posisi sebagai pihak yang paling benar, melainkan membantu seseorang maupun institusi memperbaiki kekurangan dan menjadi lebih baik. (*)


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X