Sering Mengkritik Orang Lain? Kenali Batas Kritik Sehat dan Toksik

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:04 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)




Padahal, kejujuran tidak identik dengan kekasaran. Kebenaran dapat disampaikan tanpa penghinaan, sedangkan ketegasan tidak mengharuskan seseorang merendahkan orang lain.





Hardisman memberikan gambaran seseorang yang setiap hari mencari kesalahan organisasi. Ketika sebuah program berhasil, ia menganggap keberhasilan itu biasa saja. Namun, ketika program gagal, ia segera mengatakan bahwa dirinya sudah memperingatkan sejak awal.





Ketika pimpinan mengambil keputusan A, ia mengkritik. Setelah keputusan diubah menjadi B mengikuti kritiknya, ia tetap mengkritik. Bahkan, ketika orang lain mendapatkan penghargaan atau mencapai keberhasilan, ia masih mencari kelemahannya.





Pola tersebut menunjukkan bahwa kritik tidak selalu berorientasi pada perbaikan.





"Seseorang dapat benar dalam satu kritik dan tetap memiliki pola kritik yang tidak sehat. Fakta bahwa kritiknya kadang benar tidak otomatis membuat motifnya sehat," tambah Hardisman.





Ia menerangkan, seseorang yang terus-menerus mencari kesalahan orang lain mungkin bukan sedang memperjuangkan kualitas, melainkan mempertahankan posisi sebagai orang yang paling tahu, paling kritis, atau paling bermoral.





Dalam psikologi Alfred Adler, perasaan inferior dapat mendorong seseorang melakukan kompensasi berlebihan untuk membangun perasaan superior.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X