Sebaliknya, memilih diam dan membiarkan kesalahan berlangsung bukan satu-satunya cara menjaga hubungan dengan orang lain. Dalam situasi tertentu, menyampaikan koreksi justru diperlukan.
Hardisman mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran filsuf Jürgen Habermas mengenai komunikasi yang sehat. Komunikasi seharusnya tidak diarahkan untuk memenangkan pertarungan, tetapi untuk mencapai pemahaman bersama.
Karena itu, kritik bukan senjata untuk mendominasi orang lain. Kritik seharusnya menjadi kesempatan bagi setiap pihak untuk memeriksa kembali tindakan dan keputusan yang diambil.
Seorang dosen yang menunjukkan kelemahan metodologi penelitian mahasiswa, misalnya, tidak otomatis merendahkan mahasiswa apabila kritik tersebut disertai alasan dan jalan perbaikan. Begitu pula seseorang yang menunjukkan kelemahan kebijakan organisasi tidak serta-merta menjadi pengganggu.
Seorang sahabat yang mengingatkan bahwa keputusan seseorang mungkin keliru juga tidak berarti ia tidak memberikan dukungan.
"Kepedulian tidak selalu berbentuk pujian, kadang kepedulian berbentuk kalimat yang tidak nyaman didengar," ungkap Hardisman.
Kritik Toksik Bisa Menjadi Pertahanan Ego
Kritik yang objektif berbeda dengan kritik yang digunakan untuk mempertahankan ego. Menurut Hardisman, kritik yang berorientasi pada ego tidak lagi berangkat dari pertanyaan tentang apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya, tetapi dari keinginan untuk merasa lebih benar daripada orang lain.
Orang dengan pola tersebut mungkin membenarkan perilakunya dengan alasan ingin menyampaikan fakta atau menganggap dirinya sebagai pribadi yang blak-blakan.