Sering Mengkritik Orang Lain? Kenali Batas Kritik Sehat dan Toksik

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:04 WIB
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)
Ilustrasi Kritik (Foto: Magnific)




Dalam neuropsikologi, fenomena ini dikenal sebagai displacement atau pengalihan emosi.





Contohnya, seorang karyawan dimarahi atasannya, tetapi tidak mampu membalas. Ketika pulang, ia justru bersikap kasar kepada pasangannya. Jika pasangan tidak menjadi sasaran, kemarahan tersebut dapat beralih kepada anak.





Dalam bentuk yang lebih halus, tekanan emosional serupa bisa muncul melalui komentar sinis terhadap organisasi, kolega, masyarakat, atau siapa pun yang tersedia sebagai sasaran.





Perspektif kognitif Aaron Beck juga membantu menjelaskan fenomena ini. Tekanan berkepanjangan dapat memperkuat skema berpikir negatif sehingga seseorang lebih mudah memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinan negatifnya.





Akibatnya, kebaikan dan keberhasilan menjadi kurang terlihat, sedangkan kegagalan justru lebih menonjol dalam penilaiannya.





Empat Cara agar Kritik Tidak Menjadi Toksik





Hardisman menekankan bahwa kritik objektif pada dasarnya merupakan nasihat yang berangkat dari kepedulian, kebenaran, dan keinginan memperbaiki keadaan. Namun, kritik hanya menjadi nasihat yang baik apabila disampaikan dengan tujuan dan cara yang tepat.





Dalam perspektif Islam, nasihat memiliki kedudukan penting. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Ad-diinu an-naṣiḥah" yang berarti agama adalah nasihat. Hadis tersebut tercantum dalam HR Muslim dan dikenal sebagai hadis ke-7 dalam Arba'in an-Nawawiyah.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X