Fakta yang benar tidak otomatis menjadikan kritik sebagai nasihat yang baik apabila disampaikan dengan cara yang menyakitkan atau merendahkan.
Dalam QS Thaha ayat 44, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara kepada Firaun dengan qaulan layyinan, yakni perkataan yang lemah lembut.
Prinsip tersebut mengajarkan pentingnya menjaga kelembutan ketika memberikan nasihat. Waktu, kondisi psikologis, dan tempat penyampaian juga perlu diperhatikan agar kelemahan seseorang tidak menjadi tontonan publik.
Hardisman turut mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran Imam Al-Syafi'i mengenai nasihat yang diberikan secara rahasia sebagai bentuk kepedulian. Sebaliknya, teguran di hadapan banyak orang berisiko berubah menjadi penghinaan.
Ia mencontohkan, jika seseorang melihat kekeliruan atasannya atau ketidakkonsistenan sahabatnya, kritik objektif sebaiknya disampaikan secara baik dan langsung kepada pihak yang bersangkutan, disertai alternatif solusi.
Jika persoalan tersebut tidak disampaikan kepada orang yang bersangkutan, tetapi justru diceritakan kepada orang lain atau diumbar melalui berbagai percakapan dan media daring, tindakan itu berisiko menjadi upaya merendahkan, bukan memberikan nasihat.
Keempat, kritik harus berfokus pada persoalan, bukan menyerang kehormatan pribadi.