Laptop atau notebook memberikan andil 0,06 persen dan telepon seluler 0,05 persen.
Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 3,83 persen. Nasi dengan lauk menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar sebesar 0,10 persen, disusul ayam goreng 0,06 persen.
Gulai dan ketupat atau lontong sayur masing-masing memberikan andil 0,04 persen, sedangkan ikan bakar memberikan andil 0,03 persen.
Data BPS tersebut menunjukkan bahwa inflasi Sumatera Barat pada September 2026 tidak hanya dipengaruhi satu kelompok pengeluaran. Kenaikan harga terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran, sementara sejumlah komoditas lainnya pada saat yang sama memberikan tekanan deflasi.
Di tengah inflasi Sumatera Barat yang mencapai 3,50 persen, Dharmasraya mencatat angka lebih tinggi, yakni 4,42 persen dengan IHK 116,88. Sebaliknya, Kota Padang menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 3,33 persen dengan IHK 113,41. (*)