Kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga masing-masing memberikan andil 0,19 persen. Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,11 persen.
Adapun kelompok pendidikan memberikan andil 0,06 persen, kesehatan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen.
Harga Pangan Masih Berperan
Pergerakan harga bahan pangan menjadi bagian penting dalam perkembangan inflasi Sumatera Barat pada September 2026.
BPS mencatat sejumlah komoditas dominan memberikan andil inflasi y-on-y. Di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, beras, bensin, minyak goreng, ikan cakalang atau ikan sisik, nasi dengan lauk, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan nila, bahan bakar rumah tangga, mobil, ikan gembolo atau ikan aso-aso, angkutan udara, ayam goreng, laptop atau notebook, telepon seluler, pemeliharaan atau service, kontrak rumah, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, serta sewa rumah.
Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi secara tahunan.
Komoditas tersebut antara lain cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, petai, kentang, sabun cair atau cuci piring, serta jeruk nipis atau limau.
Khusus kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi y-on-y tercatat 4,06 persen. IHK kelompok tersebut meningkat dari 117,02 pada September 2025 menjadi 121,77 pada September 2026.