“Guru tidak hanya memaparkan materi pelajaran di kelas, tetapi hadir sebagai sosok dewasa yang mau mendengarkan, memahami gejolak perasaan siswa, dan memberi ruang aman saat mereka merasa lelah,” katanya.
Ketiga, berjalan sejajar dengan orang tua. Sekolah perlu duduk bersama dengan para orang tua untuk menyamakan sudut pandang mengenai pengasuhan.
“Sekolah perlu ‘duduk bersama’ dengan para orang tua, menyamakan sudut pandang pengasuhan agar tidak menumpukkan beban ekspektasi yang terlalu berat di pundak anak,” ujar Noviy.
Budaya Berperan dalam Masa Transisi Remaja
Menyikapi rasa cemas dan stres pada remaja perempuan, perubahan hormon pubertas tidak semestinya menjadi satu-satunya aspek yang diperhatikan.
Pengalaman yang dikemukakan Margaret Mead melalui penelitian di Samoa menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat berperan dalam proses transisi remaja. Cara masyarakat mengelola tuntutan, pembagian peran, serta proses menuju kedewasaan menjadi bagian dari lingkungan yang dihadapi anak.
“Menyembuhkan rasa cemas dan stres pada remaja perempuan hari ini tidak bisa dilakukan hanya dengan menyalahkan perubahan hormon pubertas,” kata Noviy.
Ia menilai kebudayaan yang dibangun bersama memiliki kekuatan untuk membentuk pengalaman remaja.
“Kebudayaan yang kita ciptakan bersama punya kekuatan besar: apakah ingin menjinakkan gejolak tersebut atau justru makin memperkeruhnya?” katanya.