Remaja berhadapan dengan berbagai nilai yang muncul secara instan di layar. Di antaranya standar kesuksesan yang dipamerkan di media sosial, glorifikasi fisik yang nyaris sempurna, hingga kebiasaan mengukur harga diri berdasarkan jumlah likes dan komentar.
Ketika standar tersebut masuk ke dalam diri remaja dan kemudian berbenturan dengan realitas kehidupan sehari-hari, persoalan baru dapat muncul.
Rasa rendah diri, depresi, dan kebingungan mencari jati diri dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut. Karena itu, lingkungan budaya modern dinilai perlu menjadi perhatian dalam memahami pengalaman remaja.
Rumah Harus Jadi Tempat Bernapas
Menghadapi derasnya arus enkulturasi digital, proses sosialisasi dasar dinilai perlu dikembalikan kepada keluarga.
Rumah tidak semestinya berubah menjadi ruang lain yang penuh tekanan. Sebaliknya, rumah perlu menjadi tempat aman bagi anak untuk tumbuh dan belajar memahami kehidupan.
“Rumah tidak boleh ikut-ikutan menjadi arena ujian yang dingin, melainkan harus kembali menjadi tempat bernapas,” ujar Noviy.
Dalam ajaran Islam, peran keluarga sebagai fondasi pertama disebut ditegaskan melalui Al-Qur'an Surah Al-Furqan ayat 74. Ayat tersebut memuat doa agar keturunan menjadi qurrota a'yun, yakni penyejuk mata atau penyenang hati, serta orang tua menjadi imam bagi orang-orang bertakwa.