Gadis-gadis remaja Samoa disebut menjalani masa pubertas dengan tenang dan riang serta jauh dari depresi. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan bagaimana masyarakat setempat mengelola masa transisi menuju kedewasaan.
Mead menyimpulkan bahwa gejolak stres pada remaja sangat bergantung pada cara masyarakat mengelola transisi tersebut.
Di Samoa, struktur sosial disebut terasa longgar. Pembagian peran dilakukan secara adil dan tidak terdapat rentetan tuntutan hidup yang saling berbenturan.
Budaya Samoa juga tidak memaksa anak-anak belasan tahun untuk segera menentukan identitas yang rumit. Mereka diberikan waktu untuk tumbuh secara natural mengikuti ritme komunitas.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa pengalaman masa remaja tidak dapat dilepaskan begitu saja dari lingkungan budaya yang membentuknya.
Dunia Digital dan Hilangnya Ruang Aman
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi yang dihadapi remaja perempuan saat ini. Mereka tumbuh di tengah lanskap budaya yang kompetitif dan bising.
Dalam sudut pandang antropologi, proses enkulturasi merupakan cara seseorang menyerap nilai, norma, dan kebiasaan dari lingkungan sekitarnya. Proses ini disebut mengalami guncangan ketika ruang sosial tempat remaja belajar mengenai kehidupan mengalami perubahan besar.
Jika dahulu proses belajar mengenai kehidupan berlangsung secara alami melalui percakapan di meja makan dan ruang keluarga, kini gawai dan algoritma media sosial turut mengambil alih peran tersebut.