Dari Samoa hingga Minangkabau, Cara Budaya Membentuk Masa Remaja

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi Remaja (Foto: Pixabay)
Ilustrasi Remaja (Foto: Pixabay)



Dalam konteks tersebut, kata “pemimpin” tidak dimaknai sebagai sosok penguasa yang hanya bertugas mengatur. Orang tua juga menjadi teladan hidup yang memberikan rasa aman dan ketenangan batin bagi anak.





“Kata ‘pemimpin’ di sini bukan berarti sosok penguasa yang hanya bisa mengatur, melainkan teladan hidup yang memberi rasa aman dan ketenangan batin,” katanya.





Pengasuhan Remaja Putri dalam Budaya Minangkabau





Nilai keteladanan tersebut juga berkaitan dengan kearifan lokal budaya Minangkabau.





Dalam adat Minang, remaja putri ditempatkan pada posisi gadih rang gadang di bawah naungan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.





Anak gadis dibimbing melalui kelembutan rasa oleh ibu dan para Bundo Kanduang. Pola pengasuhan tersebut tidak mengandalkan bentakan atau paksaan, tetapi komunikasi yang halus dan sarat makna.





Hal itu tergambar dalam ungkapan: “Remaja putri bak bungo kambang, rancak di aromanyo, tapalihara dalam raso jo pareso.”





Anak perempuan diibaratkan sebagai bunga yang sedang mekar. Keindahannya terpelihara bukan karena dikurung, melainkan dijaga melalui raso jo pareso, yakni rasa empati, kesopanan, dan kontrol diri.





Ketika orang tua memberikan keteladanan, kebijaksanaan, dan keteguhan mental di rumah, anak dapat menyerap model kebudayaan yang sehat tersebut sebagai benteng alami dari berbagai pengaruh buruk.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X