Sekolah Bukan Sekadar Tempat Mengejar Nilai
Selain rumah, sekolah memiliki posisi penting dalam proses transisi budaya dan sosialisasi sekunder seorang remaja.
Sejak pagi hingga sore, lebih dari separuh waktu remaja dihabiskan di sekolah. Karena itu, apabila rumah menjadi tempat pulang pertama, sekolah diharapkan dapat menjadi tempat pulang kedua.
Namun, sekolah yang hanya berorientasi pada pencapaian akademis berpotensi menjadi ruang yang dingin. Anak-anak dapat merasa diadu satu sama lain dan dihargai berdasarkan angka yang diperoleh di atas kertas.
Ketika harga diri siswa hanya ditakar melalui pencapaian akademis, beban psikologis yang telah mereka hadapi dari lingkungan lain dapat semakin berat.
Karena itu, terdapat sejumlah langkah yang perlu dilakukan sekolah.
Pertama, menata ulang suasana belajar. Budaya sekolah perlu diubah dari lingkungan persaingan yang saling menjatuhkan menjadi ruang belajar yang saling merangkul, inklusif, dan saling menghargai.
Kedua, menghadirkan guru yang mau mendengar. Guru tidak hanya bertugas memaparkan materi pelajaran di kelas. Guru juga diharapkan hadir sebagai sosok dewasa yang bersedia mendengarkan dan memahami gejolak perasaan siswa.