Banjir Padang Tak Bisa Dilihat dari Hulu Saja
Fenomena banjir Padang pada 3 Agustus 2026 menunjukkan bahwa persoalan banjir tidak hanya berkaitan dengan besarnya hujan atau kapasitas sungai. Pergerakan sedimen, kondisi dasar sungai, karakter aliran, pasang-surut laut, hingga transportasi sedimen pesisir turut menentukan bagaimana sistem sungai merespons debit ekstrem.
Hujan ekstrem dengan akumulasi 384,5 milimeter dalam 10 jam telah memicu kenaikan muka air Batang Kuranji dan membawa muatan sedimen dalam jumlah besar. Namun, pada saat yang sama, kondisi air laut yang sedang surut memberikan gaya dorong aliran menuju muara sehingga membantu menjalankan mekanisme pembilasan alami.
Di sisi lain, keberadaan zona pengendapan lokal serta sedimentasi pesisir di Muara Batang Kuranji menunjukkan bahwa mekanisme alami tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan sedimentasi.
Karena itu, penanganan banjir Kota Padang membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dari hulu hingga muara. Pengelolaan badan sungai, penanganan titik kritis, rekayasa muara, pengendalian sedimentasi pesisir, hingga sistem peringatan dini perlu ditempatkan dalam satu kerangka mitigasi.
"Fenomena banjir 3 Agustus 2026 ini kembali menegaskan bahwa mitigasi banjir Kota Padang tidak bisa dilepaskan dari pemahaman komprehensif atas keterkaitan antara dinamika hidrolika sungai dan rekayasa proses litoral pantai," tegas Mas Mera. (*)