Angkutan sedimen pantai tersebut kerap masuk dan mengendap di mulut muara. Material kemudian membentuk lidah pasir (sandbar) yang menyumbat alur sungai dan menyebabkan pendangkalan sistematis.
Kondisi tersebut membuat persoalan Muara Batang Kuranji tidak cukup ditangani hanya dengan melihat sedimentasi yang berasal dari hulu. Dinamika pesisir juga menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan dalam penanganannya.
Pengerukan Konvensional Dinilai Tidak Efektif
Secara geologi hidraulik, dasar mulut Muara Batang Kuranji didominasi oleh perlapisan batuan keras atau karang. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya memperdalam alur muara.
Menurut Mas Mera, pengerukan konvensional menggunakan dredger biasa tidak akan efektif pada kondisi tersebut. Untuk memperdalam alur muara sekaligus meningkatkan kapasitas salurannya secara permanen, opsi pengerukan khusus melalui peledakan terarah (underwater rock blasting) dapat dipertimbangkan secara terukur untuk membongkar ambang karang dasar.
Selain pengerukan, penanganan Muara Batang Kuranji juga membutuhkan solusi rekayasa pantai yang bersifat permanen melalui pembangunan struktur pelindung muara atau jetty.
Pembangunan pasangan jetty atau pemecah gelombang muara tersebut memiliki dua fungsi utama.
Pertama, menahan laju sedimen pesisir dengan mencegah pasir laut dari Samudra Hindia masuk dan kembali mengendap di dalam badan sungai melalui mulut muara.
Kedua, mengarahkan aliran pembilasan. Struktur tersebut dapat memfokuskan jet aliran sungai (flushing jet) ketika terjadi debit banjir atau pada fase surut, sehingga muara dapat menjalankan mekanisme pembilasan mandiri (self-clearing) secara optimal menuju laut dalam.