Namun, menurut Mas Mera, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai banjir lumpur (mud flow). Karakter viskositas dan dinamika aliran menunjukkan material yang terbawa lebih berkaitan dengan proses erosi dan limpasan permukaan.
Warna coklat pekat pada air sungai secara visual mengindikasikan material suspensi didominasi oleh hasil erosi permukaan (surface erosion). Proses tersebut terjadi karena tingginya laju limpasan permukaan (surface runoff) di wilayah hulu dan tengah DAS.
Kondisi tanah di kawasan tersebut tidak lagi mampu meresapkan air secara optimal ketika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi. Air yang tidak dapat meresap kemudian mengalir sebagai limpasan permukaan menuju sistem sungai dan membawa material hasil erosi.
Banjir Justru Membilas Sedimen dari Batang Kuranji
Fenomena menarik terlihat dari hasil pemantauan langsung di lapangan yang dilakukan hingga kawasan hilir, termasuk Lapai dan Jembatan Air Tawar, pada pagi hari Selasa, 4 Agustus 2026.
Pada saat puncak debit banjir melintas di kawasan hilir, kondisi pasang air laut secara kebetulan berada pada fase surut (ebb tide). Kondisi tersebut menghasilkan kemiringan garis hidrolis (hydraulic gradient) yang curam menuju muara.
Kemiringan tersebut memberikan gaya dorong alir (tractive force) yang sangat efektif untuk menggelontorkan sedimen dari sungai menuju laut.
"Secara umum, endapan sedimen yang sebelumnya menumpuk tebal di badan sungai akibat banjir besar 27 November 2025 lalu mengalami penurunan volume yang sangat signifikan. Banjir kali ini secara efektif menjalankan fungsi pembilasan alami (self-flushing) yang membawa sedimen tersuspensi maupun sedimen dasar (bed load) keluar menuju laut," ujar Mas Mera.
Dengan demikian, banjir 3 Agustus 2026 tidak hanya menghasilkan limpasan air dalam jumlah besar, tetapi juga membawa sebagian material sedimen yang sebelumnya mengendap di badan Batang Kuranji.