Maka, pertanyaan “yang dibayar mahal itu apa?” seharusnya tidak dijawab dengan mengatakan bahwa mahasiswa membayar untuk mendapatkan materi atau jawaban.
Mahasiswa membayar untuk mendapatkan proses menjadi manusia yang mampu berpikir, mempertanyakan, mencipta, memecahkan masalah, dan mempertanggungjawabkan keputusan.
AI dapat membantu mempercepat proses tersebut, tetapi tidak boleh mengambil alih tujuan pendidikan.
“AI boleh semakin cerdas, tetapi perguruan tinggi harus memastikan manusia menjadi semakin kritis, kreatif, berintegritas, dan bertanggung jawab,” saran Derisma.
Itulah esensi Responsible AI: bukan menolak kecerdasan artifisial, melainkan memastikan kecerdasan manusia tetap menjadi pusat pendidikan. (*)