Pedoman tersebut bahkan menekankan perlunya asesmen yang tetap mampu mengukur capaian pembelajaran meskipun mahasiswa memiliki akses terhadap GenAI. Gagasan tersebut disebut dengan istilah “GenAIproof”.
“Asesmen perlu lebih banyak mengukur proses berpikir dan kompetensi nyata mahasiswa melalui proyek, studi kasus, presentasi, demonstrasi, diskusi, eksperimen, refleksi, dan pemecahan masalah,” lanjut Derisma.
Dengan pendekatan tersebut, akses mahasiswa terhadap AI tidak serta-merta menghilangkan kemampuan perguruan tinggi untuk menilai capaian pembelajaran.
Lalu, Apa yang Sebenarnya Dibayar Mahasiswa?
Pada titik ini, pertanyaan “Bayar puluhan juta untuk apa kalau semuanya dibantu AI?” justru menjadi bahan refleksi penting bagi perguruan tinggi.
Mahasiswa sesungguhnya tidak membayar hanya untuk mendapatkan informasi. Di era internet dan AI, informasi semakin mudah diperoleh.
Nilai utama perguruan tinggi seharusnya terletak pada proses pembentukan kompetensi. Kemampuan tersebut meliputi berpikir kritis, memecahkan masalah, melakukan penelitian, berkomunikasi, bekerja sama, mengambil keputusan, membangun integritas, dan menerapkan pengetahuan dalam persoalan nyata.
“Mahasiswa sesungguhnya tidak membayar hanya untuk mendapatkan informasi. Di era internet dan AI, informasi semakin mudah diperoleh. Nilai utama perguruan tinggi seharusnya terletak pada proses pembentukan kompetensi,” kata Derisma.