Sumbardaily.com - Indonesia Police Watch (IPW) menilai langkah awal Jenderal Suyudi Ario Seto setelah dilantik sebagai Kapolri bukan sekadar konsolidasi organisasi. Perombakan besar-besaran yang dilakukan sehari setelah dirinya resmi memimpin Polri dinilai sebagai regrouping kekuatan yang sehaluan.
Gebrakan itu terlihat dari mutasi besar di jajaran internal Polri. Dalam waktu singkat setelah mendapat persetujuan DPR dan dilantik Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026), Suyudi langsung mengubah sejumlah posisi strategis yang sebelumnya ditempati pejabat pada era Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso menilai langkah tersebut sangat berbeda dibanding pola yang dilakukan para Kapolri sebelumnya. Salah satu perbedaannya terletak pada kecepatan Suyudi dalam mengubah simpul-simpul strategis organisasi.
Unsur pengawas dan pembantu pimpinan seperti Irwasum, Astamaops, Astamarena, AsSDM, Kadiv Propam, Kadiv TIK, serta sejumlah pejabat unsur pelaksana tugas pokok Polri, yakni Kabaintelkam, Kabareskrim dan Kabaharkam, langsung mengalami pergantian.
Pergantian tersebut tertuang dalam Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026.
Tak berhenti pada struktur pusat, perombakan juga menjalar ke tingkat kewilayahan. Sebanyak 19 Kapolda diganti. Sejumlah struktur pendukung Polri, seperti Kalemdiklat, Kasespim dan Gubernur Akpol, turut mengalami perubahan.
Secara keseluruhan, sebanyak 88 perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen) pada era Jenderal Listyo Sigit Prabowo dicopot atau dimutasi.