Motivasi berburu juga bergeser. Jika sebelumnya berkaitan dengan kebutuhan adat, aktivitas tersebut kini disebut dilakukan sekadar sebagai kegiatan rekreasi atau untuk mengisi waktu luang.
Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena Bilo merupakan primata arboreal dengan pola reproduksi yang lambat. Satwa ini bersifat monogami dan hanya melahirkan anak setiap tiga tahun sekali.
Dengan karakteristik tersebut, tekanan perburuan dan berkurangnya tutupan kanopi hutan menjadi persoalan yang dapat memengaruhi keberlangsungan populasi Bilo.
Aliansi Mentawai juga menyoroti masih adanya ancaman komersialisasi serta pembukaan akses untuk pemanfaatan kayu. Tekanan tersebut dinilai dapat menambah beban terhadap kawasan yang menjadi habitat satwa sekaligus ruang hidup masyarakat adat.
Aliansi Mentawai kemudian mendesak Kementerian Kehutanan menghentikan seluruh izin eksploitasi komersial. Selain itu, mereka mendorong pemulihan kawasan melalui restorasi ekosistem dan percepatan proses penetapan hutan adat.
Bagi koalisi tersebut, pengakuan secara legal terhadap hak masyarakat adat menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan ruang hidup masyarakat sekaligus mempertahankan keberadaan satwa endemik Mentawai, termasuk Bilo yang populasinya terus mengalami penurunan. (*)