Di tengah persoalan ruang hidup tersebut, kondisi populasi Bilo menjadi perhatian dari sisi konservasi. Direktur SwaraOwa, Arif Setiawan atau Wawan, memaparkan hasil pemantauan populasi Bilo yang dikumpulkan pada 2023 hingga 2024.
Pemantauan dilakukan di Pulau Siberut, Sipora, serta Pagai Utara dan Pagai Selatan. Penelitian menggunakan metode vocal count atau penghitungan suara karena Bilo memiliki sifat sangat sensitif terhadap kehadiran manusia.
Hasil pemantauan menunjukkan perbedaan kerapatan kelompok Bilo di sejumlah wilayah. Di dalam Taman Nasional Siberut, estimasi kerapatan kelompok mencapai 1,83 kelompok per kilometer persegi. Di luar Taman Nasional Siberut, angkanya 0,79 kelompok per kilometer persegi.
Sementara di Sipora, kerapatan kelompok hanya 0,32 kelompok per kilometer persegi. Adapun di Pagai Utara dan Pagai Selatan mencapai 0,53 kelompok per kilometer persegi.
Perbedaan kerapatan tersebut juga tercermin dalam perkiraan jumlah individu. Di dalam Taman Nasional Siberut terdapat sekitar 7.800 individu Bilo. Di luar kawasan Taman Nasional Siberut diperkirakan terdapat sekitar 2.900 individu.
Kondisi di Sipora disebut paling kritis dengan estimasi populasi hanya sekitar 229 individu. Sementara di Pagai Utara dan Pagai Selatan masih terdapat sekitar 943 individu.
Secara keseluruhan, populasi Bilo di seluruh Kepulauan Mentawai diperkirakan berada di kisaran 11.900 individu.
"Estimasi kerapatan kelompok Bilo per kilometer perseginya di Taman Nasional Siberut itu 1,83, kemudian di luar TN Siberut itu 0,79 group per kilometer persegi. Di Sipora hanya 0,32, sangat rendah sekali. Di Pagai Utara dan Pagai Selatan ada 0,53 group per kilometer persegi. Kalau kita hitung populasinya, di dalam Taman Nasional ada sekitar 7.800 individu, di luar Taman Nasional di Siberut ada sekitar 2.900, di Sipora paling kritis kondisinya saat ini populasi diperkirakan hanya 229 individu, dan di Pagai Utara Selatan masih ada 943 individu. Seluruh Pulau Mentawai ada 11.900-an individu," jelas Wawan.