Jika dibandingkan dengan estimasi awal pada 2005, jumlah tersebut menunjukkan penurunan total populasi Bilo hingga 42 persen dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Rata-rata penurunan diperkirakan mencapai 2,3 persen setiap tahun.
Dua ancaman utama yang disebut berperan dalam penurunan tersebut adalah perburuan liar dan hilangnya tutupan hutan.
Bagi ekosistem Mentawai, keberadaan Bilo memiliki fungsi penting. Satwa tersebut dapat berperan sebagai spesies payung karena membutuhkan habitat yang spesifik untuk bertahan hidup. Kondisi hutan yang baik bagi Bilo sekaligus dapat mendukung keberlangsungan spesies lain yang hidup di habitat yang sama.
Bilo juga berperan dalam regenerasi hutan. Primata ini mengonsumsi buah-buahan hutan dalam jumlah besar sehingga berperan sebagai pemencar biji.
"Bilo ini penting secara ekologi. Pertama dia bisa berperan sebagai spesies payung, karena Bilo ini sangat spesifik, untuk bertahan hidup butuh spesifik habitat yang paling bagus. Ketika hutannya ini terjaga untuk Bilo, otomatis spesies yang lain akan terjaga juga. Yang kedua, untuk fungsi regenerasi hutan, Bilo ini hampir 70 persen lebih makannya buah-buahan hutan. Dia berperan sebagai pemencar biji-bijian hutan," papar Wawan.
Ancaman terhadap Bilo tidak hanya berasal dari perubahan tutupan hutan. Wawan juga menyoroti perubahan budaya yang ikut memengaruhi pola perburuan.
Pada masa sebelumnya, aktivitas berburu Bilo dibatasi oleh norma dan tabu adat. Namun, kondisi tersebut disebut mengalami perubahan. Perburuan kini marak dilakukan menggunakan senapan angin berkekuatan gas yang dapat dibeli warga secara daring.