Ia menilai pengulangan edukasi diperlukan agar pengetahuan masyarakat tidak hilang setelah kegiatan selesai. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah membuat perlombaan kesiapsiagaan antarkecamatan.
"Kalau hanya sebatas sosialisasi, masyarakat akan cepat lupa, jika diingatkan lagi, dilombakan 11 kecamatan, 1 kelurahan saja dari kecamatan itu sudah luar biasa," katanya.
Menurut Zaitul, musim kemarau membuat potensi kebakaran semakin sensitif sehingga perubahan pola pikir masyarakat menjadi bagian dari upaya pencegahan.
"Apalagi sekarang kita menghadapi musim kemarau, itu sangat sensitif. Kelalaian masyarakat bisa dicegah dari merubah pola pikir masyarakat," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Kerapatan Adat dan Alam Minangkabau Sumatera Barat (LKAAM Sumbar), Fauzi Bahar Datuak Sati, menyebut munculnya usulan menjadikan Parak Karakah sebagai kelurahan percontohan penanggulangan kebakaran. Konsep tersebut diarahkan pada kesiapsiagaan yang dimulai dari lingkungan rumah warga.
"ini merupakan ide bagus, tadi ada usulan warga untuk menjadikan Parak Karakah sebagai Kelurahan percontohan untuk penanggulangan kebakaran, jadi kesiapsiagaan, kabel-kabel di rumah itu kita cek satu per satu, karena berawal dari mereka soalnya," katanya.
Selain kondisi instalasi listrik, Fauzi menilai infrastruktur lingkungan perlu diperhatikan. Jalan harus dapat dilalui kendaraan pemadam kebakaran tanpa terhalang bangunan atau objek lain.