Kesenjangan MBG dan Hulu Masalah Gizi, Guru Besar Unand Soroti Pentingnya 1.000 HPK

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:29 WIB
Siswa SDN 24 Ujung Gurun nikmati makan bergizi gratis. (Foto: Kominfo Padang)
Siswa SDN 24 Ujung Gurun nikmati makan bergizi gratis. (Foto: Kominfo Padang)



Pemerintah dinilai memiliki peluang menggeser pendekatan dari model memberikan makanan kepada semua menuju pemberian intervensi yang tepat kepada kelompok yang paling membutuhkan.





Keempat, indikator keberhasilan MBG perlu diperjelas. Keberhasilan tidak cukup hanya diukur melalui jumlah porsi makanan dan penerima manfaat.





Indikator lain yang perlu diperhatikan mencakup perubahan status anemia ibu hamil, proporsi ibu hamil yang mengalami KEK, berat lahir rendah, pertumbuhan balita, dan prevalensi stunting.





Untuk kelompok sekolah, indikator seperti status gizi, anemia, konsentrasi belajar, serta capaian pendidikan juga dapat digunakan.





Kelima, program gizi perlu dibedakan dengan program pemberdayaan ekonomi. Keduanya memang dapat berada dalam satu kebijakan besar, tetapi indikator keberhasilannya tidak boleh dicampur.





Jika MBG juga ditujukan sebagai stimulus ekonomi bagi petani, nelayan, koperasi, dan UMKM, tujuan tersebut merupakan kebijakan yang sah. Namun, keberhasilan ekonomi lokal tidak dapat dijadikan bukti bahwa program telah berhasil menyelesaikan masalah gizi.





MBG Dinilai Perlu Menjawab Masalah yang Tepat





Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan program makanan dalam skala besar. Yang dibutuhkan adalah sistem intervensi gizi yang tepat waktu, tepat sasaran, terintegrasi, dan terukur.





“Semoga” MBG dapat menjadi bagian penting dari sistem tersebut dengan desain yang benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X