“Besarnya anggaran harus sebanding dengan besarnya beban masalah yang dihadapi,” menjadi prinsip yang perlu diperhatikan dalam melihat desain intervensi gizi.
Lima Langkah Perkuat Program MBG
Prof. Hardisman menyebut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat pelaksanaan MBG agar lebih mampu menjawab persoalan gizi.
Pertama, 1.000 HPK perlu ditempatkan sebagai inti intervensi, bukan hanya salah satu komponen program. Ibu hamil dengan KEK, anemia, atau risiko kehamilan lainnya seharusnya menjadi kelompok prioritas.
Pendekatan universal tetap dapat dilakukan, tetapi intensitas intervensi perlu dibedakan berdasarkan kebutuhan klinis dan status gizi.
Kedua, MBG perlu terintegrasi lebih kuat dengan Puskesmas, Posyandu, bidan, kader, serta sistem surveilans kesehatan ibu dan anak.
Ibu hamil yang menerima makanan tetapi tidak diperiksa kadar hemoglobinnya, tidak dipantau berat badan, tidak diketahui status KEK, atau tidak mendapatkan terapi dan suplementasi yang sesuai, belum memperoleh intervensi gizi secara komprehensif.
Ketiga, sasaran balita perlu menggunakan pendekatan risk-based targeting. Balita yang tumbuh normal tidak membutuhkan intensitas intervensi yang sama dengan balita yang mengalami wasting, berat badan tidak naik, atau berasal dari keluarga dengan kerawanan pangan berat.