Di sisi lain, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.
Penurunan tersebut merupakan perkembangan positif. Meski demikian, angka 19,8 persen berarti hampir satu dari lima balita masih mengalami stunting.
Kementerian Kesehatan kembali menegaskan pentingnya intervensi terhadap remaja putri dan ibu hamil. Kondisi itu memperlihatkan bahwa penanganan masalah gizi perlu dilakukan sejak sebelum anak lahir dan tidak hanya ketika anak telah berada di bangku sekolah.
Satu Porsi Makanan Tak Cukup Atasi Stunting
Prof. Hardisman menjelaskan, stunting bukan sekadar persoalan apakah seorang anak memperoleh makanan bergizi pada hari tertentu. Kondisi tersebut merupakan hasil dari perjalanan biologis yang panjang.
Faktor yang memengaruhi stunting antara lain status gizi ibu, pertumbuhan janin, berat lahir, pemberian ASI, kualitas makanan pendamping ASI, infeksi, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, dan pola pengasuhan.
Dengan demikian, pemberian makanan bergizi di sekolah tidak dapat diposisikan sebagai pengganti intervensi gizi maternal dan balita.
“Stunting bukan sekadar persoalan apakah seorang anak mendapatkan satu kali makanan bergizi hari ini,” kata Prof. Hardisman.