Temuan lapangan tersebut mendukung analisis mengenai pentingnya penanganan pada titik-titik kritis lokal di bagian hilir Batang Kuranji.
Selain endapan, tingkat kekeruhan air juga masih persisten hingga hari kelima setelah kejadian banjir. Kondisi tersebut menunjukkan proses transpor sedimen suspensi masih berlangsung.
Rekomendasikan Penanganan dari Hulu hingga Muara
Menurut Mas Mera, siklus alami yang terjadi di Batang Kuranji menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak cukup dilakukan hanya pada satu segmen sungai. Penanganan harus dilakukan secara terpadu dari kawasan hulu hingga muara.
Pertama, pemulihan hulu DAS Kuranji menjadi hal utama. Reboisasi dan pemulihan vegetasi di kawasan hulu diperlukan untuk mengembalikan daya simpan air tanah sekaligus menekan laju erosi permukaan.
"Pemulihan hulu DAS: reboisasi dan pemulihan vegetasi di hulu DAS Kuranji merupakan harga mati untuk mengembalikan daya simpan air tanah dan menekan laju erosi permukaan," katanya.
Kedua, pembersihan titik-titik kritis di segmen hilir Nanggalo dan Padang Utara perlu dilakukan. Intervensi dapat difokuskan pada titik pengendapan di sekitar tikungan dalam dan abutment jembatan agar kapasitas penampang basah sungai tetap terjaga.
Ketiga, struktur pelindung muara atau jetty perlu dibangun. Pemerintah daerah bersama instansi teknis seperti Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V perlu memastikan muara memiliki kapasitas salur yang optimal.