Kondisi itu menimbulkan dampak ganda. Ketika hujan terjadi, debit Batang Kuranji dapat melonjak secara ekstrem sehingga memicu banjir. Namun, setelah hujan berhenti, debit sungai juga turun secara drastis karena pasokan air dari kawasan tangkapan hulu berkurang.
Menurut Mas Mera, kondisi tersebut terlihat setelah banjir besar pada 27 November 2025. Debit normal harian Batang Kuranji mengalami penurunan signifikan akibat hilangnya pasokan air dari kawasan tangkapan hulu.
Sedimen Banjir 2025 Bentuk Daratan Baru di Muara
Banjir 27 November 2025 juga membawa muatan sedimen dalam jumlah sangat besar dari kawasan hulu. Sedimen tersebut terdorong hingga ke muara Batang Kuranji dan kemudian mengendap di perairan pantai.
Endapan itu bahkan membentuk daratan baru yang menjorok hingga sekitar 500 meter atau setengah kilometer ke arah laut.
Namun, proses tersebut tidak berlangsung permanen. Laut memiliki mekanisme keseimbangannya sendiri. Ketika pasokan sedimen dari hulu mulai mereda, energi gelombang Samudra Hindia secara bertahap menguraikan material yang sebelumnya menumpuk di kawasan muara.
Proses tersebut berlangsung melalui transpor sedimen pantai atau alongshore sediment transport. Daratan masif yang semula terbentuk di mulut muara kemudian perlahan terkikis, terpecah, dan berubah menjadi pulau-pulau sandbar berukuran kecil.
Perubahan Rezim Aliran Picu Sedimentasi di Hilir
Dinamika lain terlihat pada segmen hilir Batang Kuranji, khususnya wilayah Kecamatan Nanggalo dan Kecamatan Padang Utara.
Saat puncak banjir terjadi, debit dan kecepatan air meningkat sangat tinggi. Kondisi itu membuat aliran berada pada rezim superkritis, yakni kondisi ketika kecepatan aliran lebih tinggi dibandingkan kecepatan gelombang dangkal.