Meski membawa muatan sedimen pekat, debit dan kecepatan aliran saat banjir cukup kuat untuk memicu mekanisme pembilasan alami atau self-flushing. Debit puncak mampu menggerus sekaligus membilas sisa endapan tebal yang tertahan di badan sungai sejak banjir 27 November 2025 menuju laut.
"Aliran debit puncak berhasil menggerus dan membilas sisa-sisa endapan tebal yang tertahan di badan sungai sejak banjir 27 November 2025 lalu menuju ke laut," kata Mas Mera.
Namun, proses tersebut kembali berubah setelah puncak banjir berlalu. Ketika hujan mereda, debit banjir turun dengan cepat dan kecepatan aliran kembali melambat.
Segmen hilir Batang Kuranji di Nanggalo dan Padang Utara yang sebelumnya berada pada rezim superkritis kembali bertransisi menjadi rezim subkritis. Sedimen halus yang masih tersisa kemudian kembali mengendap di badan sungai, tikungan dalam, serta di balik abutment jembatan.
Dengan demikian, proses yang terjadi membentuk siklus pengendapan, pembilasan, dan pengendapan kembali.
"Siklus pengendapan-pembilasan-pengendapan ini terus berulang," ujar Mas Mera.
Pengamatan 8 Agustus Perlihatkan Endapan Tebal
Fenomena tersebut juga terlihat dalam pengamatan visual di ruas Batang Kuranji sebelum Jembatan Raya Nanggalo pada Sabtu (8/8/2026).
Dalam pengamatan tersebut, endapan sedimen tebal terlihat jelas terbentuk di sisi tikungan dalam. Kondisi itu menunjukkan adanya zona dengan kecepatan aliran rendah yang memicu pengendapan lokal setelah debit banjir meluncur turun.