Terungkap Dinamika Batang Kuranji Usai Banjir Padang, dari Degradasi Hulu hingga Sedimentasi

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:55 WIB
DAS Batang Kuranji (Foto: Mas Mera)
DAS Batang Kuranji (Foto: Mas Mera)




Pada kondisi tersebut, gaya dorong aliran atau tractive force menjadi sangat kuat sehingga mampu mengangkut sedimen.





Persoalan muncul ketika hujan berhenti dan debit sungai turun. Kecepatan arus ikut merosot tajam sehingga aliran dengan cepat beralih dari rezim superkritis menjadi rezim subkritis.





"Perubahan rezim aliran ini serta-merta menurunkan kapasitas transpor sedimen. Sedimen suspensi dari hulu yang belum sempat terbuang ke laut akhirnya mengendap di badan sungai, menyebabkan pendangkalan," ujar Mas Mera.





Endapan paling tebal terbentuk pada zona yang memiliki kecepatan rendah dan recirculation zone atau arus balik. Kondisi tersebut antara lain ditemukan pada tikungan dalam sungai atau inner bend sebelum dan sesudah Jembatan Jalan Raya Nanggalo serta pada area belakang dan bawah abutment jembatan.





Sebagian sedimen di tikungan dalam sungai memang berkurang akibat aktivitas penambangan pasir oleh warga lokal. Namun, sisa material yang mengendap di dasar sungai masih cukup tebal sehingga secara signifikan mengurangi kapasitas tampung penampang basah sungai.





Banjir 3 Agustus 2026 Jadi Pembilasan Alami





Banjir yang terjadi pada 3 Agustus 2026 memperlihatkan kembali interaksi hidraulik tersebut. Saat banjir terjadi, kondisi pasang air laut sedang memasuki fase pasang surut atau ebb tide.





Aliran Batang Kuranji yang terlihat berwarna cokelat pekat menjadi indikasi tingginya konsentrasi sedimen yang berasal dari erosi permukaan atau surface erosion di kawasan hulu.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X