Hal ini harus menjadi poin penting agar generasi muda mampu membangun narasi tandingan yang kuat, bahwa masyarakat Minangkabau memiliki rekam jejak panjang dalam membangun harmoni dalam lingkungan sosial, termasuk dengan masyarakat dari latar belakang agama yang berbeda.
Langkah Intervensi Psikologis Berbasis Budaya
Sebagai upaya preventif untuk menghadapi potensi munculnya gangguan psikologis akibat konflik sosial maupun stigma intoleransi, Psikologi Klinis menawarkan beberapa langkah intervensi berbasis komunitas dan budaya sebagai berikut:
Edukasi Toleransi di Sekolah : Pemahaman lintas budaya untuk pertama kali bisa ditanamkan dalam lingkup sekolah.
Diharapkan ke depannya, kurikulum sekolah semenjak sekolah dasar bisa disisipi berbagai pelatihan regulasi emosi, kemampuan komunikasi non kekerasan serta pengenalan hal-hal yang berkaitan dengan multikulturalisme.
Pelatihan untuk Guru dan Tokoh Adat : Tigo Tungku Sajarangan , Ninik Mamak (pemimpin adat), Alim Ulama (pemimpin agama), dan Cadiak Pandai (pemimpin intelektual), sebagai penopang kehidupan masyarakat yang menjaga keseimbangan antara adat, agama dan pengetahuan ini juga diberi pelatihan dasar mengenai tanda stress psikologis pada generasi muda.
Harapannya agar mereka mampu melakukan deteksi stress secara dini dan juga membantu memberi dukungan secara emosional kepada para generasi muda.
Forum Dialog Damai Antar Agama: Dialog terbuka yang difasilitasi oleh tokoh lintas agama dan tokoh adat yang dilakukan secara berkala, mampu menjadi sarana mengurai kesalahpahaman dan mampu membentuk ikatan serta empati yang kuat antar kelompok agama.
Pendampingan Psikologis Pasca Konflik: menilisik kasus penolakan rumah ibadah yang baru terjadi maupun konflik antar warga lainnya yang muncul dimasyarakat, diharapkan adanya tim konselor komunitas maupun relawan psikologi yang standby membantu individu yang terdampak secara emosional.